Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Unborn 8.0 Yellow Pointer

Blogger news

Jumat, 10 Juni 2011

As Sihah


Angka Sehat Tubuh Anda (Bag. 2)

Gula Darah
Gula darah yang berlebih dapat menyebabkan penyakit diabetes atau kencing manis dengan akibat yang cukup berbahaya. Angka yang dihasilkan berbeda bergantung pada saat pengambilan darah.

Kadar Gula setelah Puasa
Gula puasa, yang diambil setelah seseorang berpuasa selama minimal 8 jam. Rentang angkanya sebagai berikut:
 Angka
Keterangan
< 110 mg/dL
Sehat
110 - 125 mg/dL
Hati-hati, pada rentang angka ini berarti
Anda mengalami pradiabetes
> 126 mg/dL
Tidak sehat, pada angka ini berarti Anda mengalami diabetes

Kadar Gula tanpa Puasa
Gula darah sewaktu, yang diambil kapan saja tanpa puasa sebelumnya.
Angka
Keterangan
< 110 mg/dL
Sehat
110 - 199 mg/dL
Hati-hati, termasuk pradiabetes
> 200 mg/dL
Tidak sehat, pada angka ini berarti Anda mengalami diabetes

Fungsi Hati
Untuk mengetahui fungsi hati baik atau tidak perlu dilakukan pemeriksaan SGOT dan SGPT yang merupakan enzim yang terdapat dalam hati. Peningkatan jumlah SGOT dan SGPT menunjukkan ada yang tidak beres pada sel-sel hati.

SGOT
 Angka
Keterangan
0 - 30 U/I
Sehat
> 30
Ada yang tidak beres pada hati Anda

SGPT
 Angka
Keterangan
0 - 45 U/I
Sehat
> 45
Ada yang tidak beres pada hati Anda

Asam Urat
Penyakit asam urat disebabkan akibat berlebihnya zat purin. Anda bisa merasa pegal atau sakit khususnya pada persendian. Jenis kelamin mempengaruhi jumlah angka sehat, rentangnya adalah:
Jenis Kelamin
Angka Sehat
Pria
3,7 - 7,6 mg/dl
Wanita
2,5 - 6,0 mg/dl

Tekanan Darah
Merupakan tekanan pada dinding arteri pada saat jantung sedang memompa darah. Yang biasa diukur adalah kondisi tekanan pada saat jantung berkontraksi (biasa disebut batas atas) dan pada saat jantung relaksasi (biasa disebut batas bawah). Tekanan darah yang tinggi dapat membahayakan karena dapat menyebabkan stroke dan penyakit lainnya. Tekanan darah yang tinggi ini sering disebut orang sebagai penyakit darah tinggi atau hipertensi. Rentang angka sehatnya adalah:
Tekanan Darah
Sistolik (angka pertama)
Diastolik (angka kedua)
Darah rendah atau hipotensi
Di bawah 90
Di bawah 60
Normal
90 - 120
60 - 80
Pre-hipertensi
120 - 140
80 - 90
Darah tinggi atau hipertensi (stadium 1)
140 - 160
90 - 100
Darah tinggi atau hipertensi (stadium 2 / berbahaya)
Di atas 160
Di atas 100

Testoteron
Hormon yang ternyata tidak hanya dihasilkan oleh pria, pada seorang wanita hormon ini tetap ada hanya saja dalam jumlah yang sedikit. Rentang angka sehatnya adalah:
Jenis Kelamin
Angka Sehat
Pria
15 - 26,5 pg/mL
Wanita
1,4 - 2,2 pg/mL

TSH (Thyroid Stimulating Hormone)
Untuk mengetahui apakah ada kelainan pada tiroid. Rentang angka sehatnya adalah antara 0,35 - 2,1 mU/L.

PSA (Prostat Spesific Antigen)
Merupakan hormon yang dihasilkan oleh pria pada glandula prostat. Bila berada pada rentang angka tidak sehat dapat berarti seorang pria mengalami pembesaran prostat atau kanker prostat. Angka sehatnya adalah antara 0 - 2,6 ng/ml.

Tulang
Pemeriksaan tulang memiliki tujuan untuk mencegah seseorang dari osteoporosis. Pemeriksaan ini disebut dengan densitometri atau DEXA scan. Range angka sehatnya adalah:
Angka T-score
Keterangan
> -1
Sehat
-1 sampai -2,5
Hati-hati, massa tulang Anda terlalu rendah sehingga rentan mengalami osteoporosis

Mengapa Harus Melakukan Pemeriksaan Medis?
Dengan melakukan pemeriksaan medis (medical check up) secara rutin, Anda dapat mengetahui lebih awal kondisi tubuh Anda, misalnya apakah rentang angka gula Anda menunjukkan adanya organ tubuh yang perlu diperiksa, apakah kolesterol Anda meningkat atau tidak dan identifikasi sejak dini terhadap masalah di dalam tubuh Anda.
Karena sudah terlebih dahulu mengetahui, Anda dapat segera melakukan perbaikan, seperti mengubah pola hidup dan makan agar tetap berada dalam rentang angka yang sehat.

Cindera Hati

Yan Hui adalah murid kesayangan Confucius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari saat Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumuni banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.
Pembeli berteriak: “3 X 8 = 23, kenapa kamu bilang 24?”
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3 X 8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi.”
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan.”
Yan Hui: “Baik, jika Confucius bilang kamu salah, bagaimana?”
Pembeli kain: “Kalau Confucius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”
Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu.”
Keduanya  sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confucius. Setelah Confucius tahu duduk persoalannya, Confucius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: “3×8= 23. Yan Hui, kamu kalah. Berikan jabatanmu kepada dia.”

Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confucius berkata dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.
Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confucius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confucius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.
Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confucius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasihat : “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon, dan jangan membunuh.”
Yan Hui menjawab, “Baiklah”, lalu berangkat pulang.

Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat.
Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasihat Confucius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasihat gurunya yang pertama sudah terbukti.
Apakah saya akan membunuh orang?
Yan Hui tiba di rumahnya saat malam sudah larut dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan hendak menghunus pedangnya. Pada saat akan menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasihat Confucius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur di samping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confucius, berlutut dan berkata:
“Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?”
Confucius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung di bawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh”.
Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.”
Jawab Confucius : “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan nyawa yang lebih penting?”
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar- benar malu.”
Sejak saat itu, kemanapun Confucius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

At Tarbiyah

SHALAT YUK, NAK!

 Salah satu kewajiban utama orang tua adalah mendidik anak-anaknya untuk taat pada perintah Allah, termasuk dengan mengajarkan sholat. Sering kali orang tua lalai akan kewajiban yang  satu ini. Dengan dalih, “kan masih kecil, belum baligh”, sehingga akhirnya anak-anak tumbuh besar dengan kebiasaan tidak sholat. Rasullullah SAW dalam haditsnya memerintahkan kepada orang tua untuk mengajarkan anaknya sholat ketika usia 7 tahun. Jika pada usia 10 tahun belum mengerjakan sholat, orang tua boleh memukulnya. Tentu saja ungkapan ini perlu dimaknai dengan benar, karena makna ‘pukullah’ di sini tentu bukan melakukan hukuman dengan kekerasan fisik yang menyakitkan dan melukai anak tetapi bahwa orangtua harus menunjukkan ketidak-senangan dan konsekuensi yang sangat tegas saat anak menolak shalat. Ini menunjukkan bahwa mendidik sholat memang bukanlah hal yang mudah. Bahkan harus dimulai sejak usia dini, bukan baligh.
Dalam ilmu pendidikan anak, seorang anak usia 0-5 tahun merupakan ‘peniru’ yang baik. Hendaknya orang tua peka dan menjadikan ini kesempatan untuk memberikan tauladan yang bisa ditiru oleh anak-anak mereka. Dalam hadits dari Abu Qatadah disebutkan “Rasulullah sholat bersama kami sambil menggendong Umamah binti Zainab. Jika ia sujud, diletakkanya Umamah. Dan bila ia berdiri digendongnya”. Sungguh sebuah tauladan yang sempurna, bagaimana menanamkan positive feeling  tentang sholat pada anak di usia dini.
Dalam Buku “92 Cara Mudah Membiasakan ANAK SHALAT” yang di tulis oleh Hana’ binti Abdul Aziz ash-Shunai’ yang merupakan ringkasan dari buku beliau yang berjudul “Tajarib li al-Aba’ wa al-Ummahat fi Ta’wid al-Aulad ‘ala ash-Shalat” (Usaha Orang Tua untuk Membiasakan Anak-anak Mereka Sholat), ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk melatih dan menumbuhkan kebiasaan sholat pada anak- anak, antara lain :
1. Keikhlasan Anda dalam mendidik anak- anak sholat untuk mencari Wajah Allah SWT dan negeri akhirat akan memancarkan kekuatan-kekuatan yang ada pada diri Anda dan menjadikan Anda seperti gunung yang tidak goyah oleh terpaan angin dan perubahan iklim terhadap anak-anak Anda.
2. Bangunlah keyakinan pada diri mereka bahwa maut bisa datang kapan saja! Jelaskan tentang husnul khotimah dan su’ul khotimah.
3. Mengajarkan firman Allah SWT : “Tidakkah mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?” (Al-’Alaq : 14) untuk menumbuhkan keyakinan akan pengawasan Allah terhadap mereka.
4. Jangan menampakkan rasa putus asa dalam memperbaiki anak Anda di hadapannya.
5. Sebaiknya sang Ayah pun ikut mengontrol sholat anak- anak dengan cara menelpon dan menanyakan perihal shalat anak-anak ketika bekerja/ keluar rumah.
6. Dahulukan masalah akhirat atas masalah- masalah dunia, misalnya : menunaikan shalat pada waktunya lebih penting daripada melaksanakan tugas-tugas sekolah, memelihara waktu sholat lebih penting daripada berbincang-bincang, bermain, nonton, dll.
7. Belikan beberapa buku bergambar/cd edukatif yang menjelaskan cara wudhu dan sholat praktis dengan gambar, serta berisi sebagian dzikir.
8. Merangkul, mencium, menepuk bahu dan mengusap punggung serta mengadakan kontak batin yang diberikan oleh kedua orangtua sebagai motivasi pada anak untuk sholat setelah mereka menunaikannya, (nilainya) akan dapat melebihi ribuan hadiah lain.
9. Kaitkan hati anak-anak Anda dengan Allah SWT, dengan menanamkan prinsip-prinsip tauhid dalam diri mereka; cinta  Allah SWT dan cinta Rasul-Nya; taat Allah SWT dan taat Rasul-Nya; takut, harap dan iman.
10. Jangan mengandalkan salah satu pihak untuk mengajarkan anak-anak shalat. Sang ayah jangan hanya mengandalkan sang ibu, begitu pula sebaliknya.
11. Pada permulaan membiasakan anak untuk sholat, bisa dengan cara memberikan mereka hadiah.
12. Pujian objektif untuk anak Anda saat berada di dekat kerabat, seperti kakek, paman dan anak-anak seusianya, akan mendorong anak untuk sholat dan beramal sholeh.
13. Jadilah teladan baik bagi anak-anak Anda wahai ayah dan ibu, dengan menjadi pribadi yang paling memelihara shalat dan orang pertama yang shalat pada waktunya.
14. Manfaatkan pertemuan-pertemuan keluarga untuk melaksanakan shalat berjama’ah.
15. Berbincang- bincanglah dengan anak Anda dengan bahasa perasaan yang menyentuh, “Ayah sangat menyayangimu, ayah mengkhawatirkanmu terkena adzab neraka, engkau tak akan menemukan orang yang menasehatimu seperti ayah, engkau adalah belahan jiwa ayah, ayah tidak akan membiarkanmu disiksa di neraka, ayah menginginkanmu di surga bersama ayah, insya Allah, dan ayah tidak akan membiarkanmu menjadi bahan bakar neraka jahannam.” Biarkan anak-anak Anda melihat air mata Anda berlinang saat Anda mengingatkan mereka dari api neraka dan azab, dan saat anda mengajak mereka menuju kebaikan dan surga, itu membuat mereka merasa bahwa kata-kata Anda benar dan memiliki pengaruh yang mendalam pada diri mereka.
16. Katakan pada anak Anda, “Shalat membedakanmu dengan orang-orang kafir. Yang ada hanyalah Muslim atau kafir, tidak ada pertengahan di antara keduanya. Untuk itu, pilihlah untuk dirimu sendiri!”
17. Carilah teman-teman yang baik untuk anak-anak Anda. Saat ibu tahu bahwa di keluarga fulan ada putri-putri yang sebaya dengan anaknya yang mentaati syariat Allah SWT, hendaklah dia sering-sering mengunjunginya dengan membawa serta putrinya dan mengajak mereka untuk sering berkunjung ke rumah. Ayah juga harus melakukan hal serupa untuk putra-putranya.
18. Ciptakan spirit persaingan dalam ibadah di antara anak- anak Anda, amal baik secara umum, dan mendirikan shalat secara khusus.
19. Ajarkan anak- anak surat- surat pendek dan belikanlah perangkat shalat untuk anak-anak Anda.
20. Doakan kebaikan untuk anak anda. Berdoalah untuknya saat Anda tidak berada di hadapannya dan sesekali saat Anda berada di hadapannya.
Semoga Allah SWT memberikan kemudahan para orang tua dalam mengajarkan anak-anak mereka shalat. Aamiin yaa Robbal ‘Alamiin…

Minggu, 08 Mei 2011

Pesan Ilahiyah


Peradaban Tak di Bangun dalam Semalam

 Oleh : Rofiq Abidin
Peradaban dunia yang terus terbangun sejak dahulu hingga saat ini merupakan tanda-tanda kemajuan berfikir manusia pada zamannya masing-masing.  Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam pada zaman khalifah Harun Al Rasyid (763-809) yang berpusat di Baghdad, Irak, merupakan kebangkitan besar dari subuah peradaban dunia. Karena pada masa itu kebijakan kholifah yang sangat concern dengan pendidikan membuat masyarakat menjadi kaum intelektual. Kondisi itu melahirkan banyak ilmuwan Muslim yang mampu menciptakan berbagai karya di bidang kedokteran, matematika, filsafat, hukum, hingga astronomi. Belum lagi pencapaian peradaban Islam di Andalusia, Spanyol, yang jejaknya masih dapat dilihat hingga sekarang. Saya tak bermaksud hanya euforia dengan pencapaian kegemilangan ummat islam pada saat itu, namun perlu kita ketahui bersama agar kiranya kita sebagai umat islam tidak hanya sibuk memperdebatkan urusan khilafiah dan urusan lainnya yang justru memperuncing perselisihan. Perlu kiranya kita bersama-sama bersatu menjunjung misi rahmatan lil alamin dengan pengusaan ilmu dan teknologi serta pengamalan ajaran Ilahi secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga secara bertahap peradaban islam akan terbangun kokoh karena penguasaan ilmu pengetahuan ummat semakin menunjukkan kearah peningkatan.

Berjihad dengan Ilmu
Ajaran islam tentang jihad menjadi penting kita bahas, karena kita tahu dengan konsepsi jihad yang kurang tepat melahirkan “islamphobia” bagi masyarakat. Al-Ghazali adalah tokoh Islam yang sangat concern terhadap pentingnya pembangunan peradaban ilmu. Itulah mengapa Kitab Ihya’ Ulumid Din diawali pembahasannya dengan bab tentang ilmu (kitabul ilmi). Pada saat perang salib berlangsung, al-Ghazali justru banyak menekankan jihad bil-ilmi. Bukan karena al-Ghazali tidak memahami arti jihad atau tidak peduli dengan perang salib, tapi ada bangunan pondasi yang harus lebih dulu diletakkan sebelum sebuah peradaban dapat tegak berdiri, yaitu pondasi ilmu. Hasilnya bisa dilihat, dari guru semacam al-Ghazali lahirlah generasi hebat Salahuddin al-Ayyubi yang kemudian mampu merebut kembali Jerussalem. Mari kita cermati firman Allah berikut ini :

Dan jangnlah kamu taati (ikuti) orang-orang yang ingkar dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur’an dengan jihad yang besar (QS. Al Furqaan : 52)

Perintah Allah ini merupakan pedoman kita untuk melakukan jihad dengan ilmu Allah, yakni Al qur’anul karim. Bukan berarti penulis menafikkan jihad dalam konsep perang fisik (qital), namun penerapan jihad ini perlu kita lakukan dalam watku yang tepat dan perlakuan yang proporsional, sehingga tidak menimbulkan kemudharatan. Indikator kemajuan sebuah peradaban adalah penguasaan ilmu pengetahuan, maka peran penting yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
1.    Orang tua
Sebagai pintu pengetahuan pertama seorang anak adalah orang tua, yang menjadi tauladan dalam setiap ucapan, sikap dan tindakannya. Perlu kiranya orang tua menanamkan kepada anak untuk memegang teguh keimanan dan memberikan keleluasaan untuk membangun keratifitasnya dan wawasannya. Sehingga kelak memiliki konsep diri, tahu posisi dan peranannya sebagai generasi Islam yang akan membuat sejarah peradaban Islam.
2.    Lembaga Pendidikan
Peranan lembaga pendidikan terutama islam sangat ditentukan dari sistem dan muatan materi/kurikulum sekolah. Hendaknya kita terus mengevaluasi kematangan sistem dan output yang telah membaur dimasyarakat, sudahkah sesuai dengan semangat islam atau masih perlu action plan yang labih serius. Di lembaga pendidikan inilah peradaban akan tampak progresnya, bukan sekedar budaya yang bernuansa islam tapi membudayakan kemajuan islam dalam segala sisi kehidupan, baik secara spiritualnya maupun dalam penerapan konseptualnya.
3.    Ulama’ dan Intelektual muslim
Spirit utama memang akan lahir dari sebuah kesadaran, namun satu orang sadar saja tidak cukup membangun sebuah peradaban. Ulama’ dan kaum intelektual muslimlah yang menjadi poros spirit kemajuan islam. Kenapa? Karena ulama’ dan intelektual muslim telah memiliki semangat dan kekuatan ilmu yang matang. Tugasanya hanya perlu menularkan semangat dan keilmuannya ini kepada generasi dan segenap ummat untuk sadar tentang bagaimana Jihad Bil Ilmi merupakan hal yang penting untuk memabangun peradaban islam sehingga mencapai misi islamnya yakni “rahmatan lil ‘alamin”.
Umat Islam harus bangkit dan berjihad melawan kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan. Salah satu upaya bentuk perlawanan tersebut adalah dengan dengan upaya yang bersungguh (jihad) dalam menguasai ilmu pengetahuan (fil ‘ilmi), kemudian berupaya dengan ilmu pengetahuan tersebut untuk membangun supremasi peradaban Islam (jihad bil ‘ilmi).
Peradaban Tak di Bangun dalam Semalam
Memulai perubahan bukan hal mudah manakala kesadaran lingkungannya tidak mendukung, tapi perlu sebuah keberanian, keteguhan, keuletan dan pengorbanan. Sejarah mencatat betapa seorang pelopor perubahan menjadi satu sorotan lingkungan dan bangsanya, yang terkadang menerima perlakuan kurang adil, karena kurang nyambungnya pola pikir. Coba cermati kisah para nabi dan para rasul, selalu menemukan ujian yang tidak ringan, sebenarnya merekalah para tokoh pelopor peradaban dunia dengan misi “rahmatan lil ‘alamin”. Kedasyatan mereka terletak pada kesabaran mereka yang tetap teguh mengemban misi Dinul Islam dan membangun peradaban islam, demi syiar dan masa depan islam ke depan. Menurut saya ada beberapa hal yang perlu dibangun untuk memulai dan selanjutnya mengokohkan peradaban secara bertahap. Menurut penulis berikut inilah perihal tersebut :
1.    Membangun generasi secara berkelanjutan
Regenerasi secara terprogram akan memberikan jaminan kelangsungan kemajuan suatu Negara, dimuali dari generasi dini (cikal bakal) yang terfasilitasi kreatifitasnya dan intelektuanya akan terus tumbuh kembang menemukan keahlian dan bakatnya. Selanjutnya generasi muda yang tengah matang memiliki semangat untuk terus membangun diri dan bangsanya dengan bekal pendidikan dini yang telah ditempuh sebelumnya. Kemudian generasi pertengahan yang bisa menjembatani keinginan generasi muda hendaknya tetap konsisten dalam misi perubahannya. Generasi senior yang kaya dengan pengalaman dapat memberikan fasilitas dan nasehat atas proses perubahan yang dilakukan dari generasi kegenerasi.
2.    Menata perekonomian secara merata
Ekonomi menjadi hal penting dalam membangun peradaban, karena ekonomi adalah standart fisik kemajuan suatu Negara. Menata perekonomian disamping pakar dalam teoritis, tapi perlu kiranya para praktisi ekonomi yang memiliki kepekaan tinggi dalam menata dan menjaga stabilitas ekonomi.
3.    Menghimpun kreatifitas dan riset-riset scient dan memfasilitasi pengembangannya
Penemuan dan riset-riset para intelektual akan memudahkan kita dalam semua hal. Maka dengan memfasilitasi para generasi masa kini akan menjadi investasi berharga bagi kelangsungan peradaban bangsa di masa hadapan.
4.    Membangun kepercayaan umat
Percaya bisa menjadi hal nomor satu untuk terus menjalin hubungan, apalagi hubungan antara pemimpin dan ummat. Ini bisa dilakukan dengan transparansi keuangan dan progres program yang jelas.

Semoga bangunan ikhtiar yang telah kita bangun dapat menjadi bangunan peradaban yang kokoh, sehingga nilai-nilai ajaran Ilahi tetap tegak dalam segala sisi kehidupan. Oleh karena itu marilah kita tetap jihad bil ilmi untuk menata bangunan peradaban islam demi terwujudnya misi rahmatan lil ‘alamin.