Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Unborn 8.0 Yellow Pointer

Blogger news

Minggu, 09 Juni 2013


SABAR DALAM KETAATAN
Oleh : Rofiq Abidin



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٥٩)

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”(QS An Nisa:59)

Sebuah contoh fenomenal dari seorang Khalid bin Walid yang dengan sabar mentaati perintah Sang Kholifah Umar Ibnu Al Khatab. Pada saat nama Khalid bin Walid lagi naik daun dikalangan ummat islam masa kekhalifahan Umar Ibnu Al Khatab, karena banyak prestasi yang diraihnya saat memimpin pasukan untuk memperluas wilayah dakwah islam. Secara tiba-tiba disaat peperangan sedang berkecamuk Umar Ibnu Al Khatab memecat Khalid bin Walid sebagai panglima perang dan diserahkan tampuk kepemimpinannya kepada Abdullah, dengan sabar iapun mentaati perintah Sang Khalifah. Ia porak porandakan pertahanan lawan, selanjutnya ia serahkan kepemimpinan kepada Abdullah dengan ikhlas, walau ia tidak tahu kenapa ia dipecat oleh Sang Khalifah. Kemudian ia tetap menjadi kesatria dalam peperangan itu, seraya berkata “wahai kaum muslimin, hari ini Khalid bin Walid berperang sebagai prajurit, bukan karena Umar, tapi karena Allah”. Selepas peperangan ia menghadap kepada Kholifah Umar Ibnu Al Khatab untuk mengkonfirmasi atas pemecatannya. Ternyata pemecatan Khalid bin Walid bukan karena buruknya prestasi, namun karena banyaknya ummat yang terlalu berlebihan memuji kepiawaiannya menorehkan prestasi demi prestasi. Karena menurut Umar bisa merusak aqidahnya kepada Allah, Umar tidak mau ummatnya banyak memuji Khalid bin Walid daripada Allah SWT. Sungguh Umar seorang pemimpin yang bijak dan Khalid bin Walid seorang yang sabat dalam taat.  Kisah singkat di atas menjadi pelajaran berharga dan uswatun khasanah bagi seorang pemimpin yang menjaga aqidah ummatnya dan bagi seorang yang mematuhi ulil amrinya.

Sabar Itu Lebih Baik
Dalam proses pendewasaan kepemimpinan, diperlukan kesabaran menerima dan manampung saran dan kritikan. Karena itu akan menjadi penyubur sekaligus pelecut kemajuan sebuah organisasi, perusahaan atau negara. Jika kita seorang pemimpin bersabarlah dengan segala kemauan bawahan dan bagi seorang bawahan bersabarlah dengan kepemimpinan yang ada. Itu akan lebih baik dan akan menjadi lebih baik lagi jika kesabaran itu tertuang dalam sebuah karya/prestasi kerja diperusahaan/organisasi. Allah menjamin melalui firmanNya (QS An Nisa:59), bahwa jika kita tetap sabar dalam ketaatan walau berselisih pendapat, maka itu lebih baik dan akan berakibat baik. Kita hanya perlu yakin dengan perintah Allah ini, kita hanya perlu sabar dengan perintah Allah ini dan kita hanya perlu mengembangkan diri dalam kepemimpinan yang ada. Jangan sampai kita hanya bisa berkomentar, namun prestasi dan karya kita tidak signifikan. kesabaran dalam ketaatan tidak bermakna diam dan pasrah dengan keadaan, namun sabar dalam taat selalu memiliki kreatifitas untuk membangun ide, mengembangkan diri dalam mewujudkan ketaatannya. Kesabaran dalam taat akan menghasilkan beberapa nilai sebagai berikut :
1.    Kematangan dalam ide
Saat dalam kepemimpinan, seorang mukmin yang taat dan interes terhadap kemajuan organisasi/perusahaan akan menyimpan sebuah ide brilian. Ide itu muncul karena kebutuhan dilapangan, ide itu ada karena seringnya memikirkan dan terbiasa bergelut dengan pekerjaannya. Seorang pemimpin perusahaan/organisasi seyogyanya bisa mendeteksi ide-ide itu dengan mengadakan syuro/musyawarah dengan bawahannya secara terbuka dan familiar. Seorang mukmin yang sabar dalam ketaatan memiliki ide fresh dan hati yang bersih untuk kemajuan, hanya perlu bersabar untuk bisa diterapkan dalam kepemimpinan yang ada. Ketaatannya yang akan menjadikan ide itu semakin matang, karena diasah oleh keadaan. Sehingga saat ide itu diterapkan oleh pemimpinnya atau boleh jadi ia sendiri yang diberi kesempatan memimpin, maka tampaklah ide itu begitu matang dalam aplikasinya. Jadilah mukmin yang sabar dalam ketaatan yang tidak diam dan pasrah, namun peduli dengan perusahaan/organisasi yang ada, karena itu lebih baik dan lebih bijak.
2.    Kemampuan
Seringnya bergesekan dengan keadaan dilapangan, karena mengikuti kepemimpinan menjadikan seseorang yang dipimpin memiliki kemampuan. Namun bukan ketaatan buta, tanpa bisa mendasari dengan ilmunya. Karena setiap perbuatan yang didasari dengan ilmu, maka akan menjadikan seseorang semakin mampu, semakin maju dan semakin berkarakter. Jika tetap sabar dalam ketaatan, maka kemampuan yang kita miliki akan semakin meningkat karena kehendak untuk mentaati pimpinan yang begitu kuat.
3.    Kepercayaan
Semakin kita taat kepada Allah, rosul dan ulil amri maka kita akan semakin dipercaya dalam mengemban tugas. Kataatan memang akan mempengaruhi kepercayaan, namun tetaplah memiliki karakter kreatif dan inovatif dalam menjalankan ketaatannya. Sehingga kemampuan mentaati akan semakin cepat, tepat dan bermanfaat lebih dari sebelumnya. Karena mahalnya kepercayaan, biasanya seseorang yang sekali tidak taat kepada pemimpinnya akan membuyarkan kepercayaan sebelumnya, jadi jagalah kepercayaan dengan ketaatan yang penuh kasih dan kesabaran.
4.    Tanggung Jawab
Sebuah ekspresi taat akan muncul karena ada sebuah tanggung jawab penuh kepada amanahnya. Bahkan seseorang yang bertanggung jawab namun kurang berkemampuan bisa melakukan sesuatu  lebih sukses dari orang yang berkemampuan namun kurang tanggung jawab. Dengan ketaatan yang penuh kesabaran akan melahirkan tanggung jawab tinggi terhadap amanah yang diberikan oleh seorang pemimpin.

Jelas bahwa ketaatan yang dilakukan dengan sabar akan menghasilkan nilai-nilai positif  bagi  pengembangan diri. Namun ingat, ketaatan tidak perlu mematikan kreatifitas, ketaatan tidak boleh membunuh karakter baik dan tidak boleh menurunkan bakat serta potensi yang dimiliki. Bersabarlah dalam ketaatan, karena taat kepada Allah, Rosul dan pemimpin (ulil amri) adalah sebuah perintah Allah. Bersabar dalam makna gigih, ulet dan pantang menyerah dalam menjalankan ketaatan yang jelas, melaksanakan perintah dengan tulus serta menginterpretasikan perintah dengan penuh bijak. Mari kita terus membangun diri untuk menjadi mukmin yang taat kepada Allah, Rosul dan Ulil Amri demi kemaslakahatan bersama.

Jumat, 05 April 2013


Menuai Berkah
Oleh : Rofiq Abidin


“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka  berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raaf : 96 )

Anugerah Ilahi terus mengalir untuk kelangsungan hidup kita yang kian hari berkembang tantangannya. Keberkahan tak datang begitu saja, tapi keberkahan adalah efek dari apa yang pernah kita amalkan. Keberkahan hidup mengalir deras manakala kita mau mensyukuri anugerah yang telah ada. Keberkahan bukan hanya berarti melimpahnya harta kita dari hari ke hari, minggu ke minggu dan bulan ke bulan, tahun demi tahun, dan seterusnya, karena boleh jadi kelimpahan yang ada itu justru bumerang atas keengganan kita untuk mensyukuri nikmat Allah yang ada. Ada orang merasa telah melimpah hartanya, namun ia tak pernah mengeluarkan kewajibannya (zakat) atau enggan berbagi dengan sesamanya. Ini bukan keberkahan. Pernah saya dengar, bahwa “Aku ini rajin ibadah, rajin sodaqoh tapi gak kaya-kaya, namun si Fulan itu gak pernah sholat, gak pernah sodaqoh, tapi kok hidupnya enak ya, kaya, hartanya melimpah”. Jika kita tela’ah, siapakah diantara kedua orang ini yang mendapat keberkahan?. Jawabnya adalah bukan kedua- duanya, karena syarat mendapat keberkahan adalah beriman dan bertaqwa. Lantas kelimpahan orang yang gak mau bersukur itu apa?. Itu adalah kehendakNya atas ikhtiar yang dilakukannya, namun bukan berarti itu sebuah kebaikan yang bernilai halal. Artinya, memang harta itu diperoleh dengan usaha, namun berkah itu diperoleh karena mengimplementasikan keimanan dan ketaqwaan. Jika harta itu berkah efeknya bukan kepada diri sendiri secara fisik,  namun efek di bathin lebih tenang dan bermanfaat bagi orang-orang yang disekitar kita. Itu bedanya melimpahnya harta tanpa berkah dan melimpahnya harta karena berkah.  Coba kita renungi sejenak peringatan Allah berikut ini :

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am : 44)

Jelas bahwa ternyata ada sebuah kesenangan yang berujung pada siksaan. Coba perhatikan kembali, jika Allah telah mengingatkan hamba-Nya untuk kembali pada jalur keimanan dan ketaqwaan, namun masih bandel saja, maka Allah justru membuka pintu-pintu kesenangan, peluang-peluang bisnis yang menggiurkan dan membawa kepada kesenangan dunia yang semu. Inilah yang kadang dirasakan oleh sebagian manusia yang tidak bersyukur sebagai sebuah ketidakadilan Tuhan. Namun ingat, itu kehendak Allah untuk membiarkannya dalam kesesatan, dalam kegelapan dan dalam kebimbangan sehingga pada akhirnya Allah mengakumulasi kesalahan/dosanya dan Allah memberikan balasan secara tiba-tiba. Jika Allah masih memberikan nafas, berarti masih diberikan kesempatan taubat. Namun jika balasan sekonyong-konyong itu mentiadakan nyawanya, maka rugilah ia serugi-ruginya karena tak sempat bertaubat dan tinggal menunggu siksa di akhirat. Jadi jangan merasa Tuhan itu tidak adil, Allah itu maha teliti, pastilah Allah akan memberikan balasan pada setiap kebaikan dan keburukan.

Beriman dan Bertakwa sebagai Kunci Keberkahan
Kepastian Allah tentang keberkahan yang disampaikan secara eksplisit dalam surat Al A’raaf ayat 96 di atas tentunya memiliki kandungan yang luar biasa. Hanya dengan beriman dan bertaqwa, maka hidup manusia dijamin keberkahannya. Kedengarannya sedikit ringan memang, tapi itulah janji Allah. Nah, sekarang tinggal bagaimana kita memaknai keimanan, ketaqwaan dan keberkahan itu sendiri. Tentu iman bukan hanya cukup bermakna percaya, tanpa aplikasi nyata. Keimanan merupakan akar, landasan dan pijakan yang berdasarkan wahyu. Dalam konteks ini, iman merupakan landasan sikap dalam berikhtiar dan berusaha. Seorang mukmin akan senantiasa menjadikan “prinsip halal” dalam berusaha, ia akan meninggalkan cara dan perihal yang nyata-nyata haram dan masih meragukan sehingga Allah menilai usahanya begitu bersih dan hasil usahanya pun dibersihkan dengan zakatnya, karena ia yakin dengan landasan inilah keberkahan Allah akan terus mengalir. Sedangkan ketaqwaan, tentunya bukan hanya sekedar melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan. Namun taqwa dalam konteks ini sebuah sikap tegas untuk selalu lurus pada jalan Allah, tak pernah terpikirkan untuk berpaling dari hukum-hukum Allah. Taqwa adalah penegakan dari keimanan, usaha yang dilandasi dengan ketaqwaan bermakna usaha yang selalu lurus dengan jalan Allah, ia tak pernah merasa rugi untuk menegakkan prinsip-prinsip benar yang dilandari dari wahyu Ilahi. Ia akan selalu mencari cara untuk senantiasa menegakkan cara-cara benar, walau terkadang ia harus berhadapan dengan opini ekstrim. Itu adalah bagian dari keteguhan taqwanya. Mungkin keberkahannya tak tampak pada hartanya secara kasat mata, namun kemuliaan disisi Allah dan kemanfaatannya bagi manusia menjadikan ia terus menemukan ketaqwaannya karena sejatinya taqwa adalah mulia di sisi Tuhannya. Keberkahan tak hanya diukur dari melimpahnya harta, namun terjaganya kesehatan, harmonisnya hubungan dengan keluarga dan tercukupinya hidup itu juga keberkahan. Orang boleh bilang apa saja tentang kita, karena memang hidup itu dinilai. Jika kita tetap pada jalur keimanan dan ketaqwaan kita akan mendapat support dari Allah berupa keberkahan. Kita akan diingatkan oleh Allah saat salah, sehingga kita tetap teguh pada jalanpNya. Nah, sebagai mukmin kita harus yakin, karena jika kita mengamalkan Al Qur’an setengah hati, ya hasilnya juga apa yang kita yakini, bahkan bisa lebih buruk, karena keraguan kita terhadap Al Qur’an.

Jadi untuk mengundang berkah dalam hidup kita, menurut saya tak perlu “ngalap berkah” yang bersifat merusak keimanan dan ketauhidan kita. Cukup perkuat iman dan pertajam ketaqwaan. Tapi kalau hanya untuk menjadi kaya, pasti anda telah banyak menemukan teorinya, tinggal keberanian prakteknya. Namun apa cuma kaya tujuan hidup kita, bagaimana dengan akhiratnya. Bagaimana dengan kebahagiaan bathin kita dan bagaimana dengan kelanjutan dakwah kita?. Bukankah akan hina di hadapan Allah jika kita meninggalkan “hablum minalllah dan hablum minannas”. Jadi untuk menjadikan hidup berkah cukup dengan meneguhkan keimanan dan terus meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, pasti Allah menjamin hidup kita menjadi berkah. Namun jika kita tidak mengindahkan peringatan Allah, maka yang ada justru bukan menuai berkah, tapi menuai siksa. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al An’am ayat 44 di atas. Semoga hidup kita makin berkah dalam makna sesungguhnya dan iman kita makin teguh serta ketaqwaan kita makin meningkat. 

TIDAK WAJIB, ISTRI MASAK UNTUK SUAMI…
Oleh : Abu Ja’far


Addunya mataa' wa khoiru mataa'iha al mar’atush shaalikhah (dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita/ istri yang shalikh ).
Sebuah riwayat di atas menggambarkan bahwa seorang istri yang baik adalah bagaikan perhiasan yang terbaik. Jika kita memandang dari segi sebuah perhiasan, tentu banyak hal yang harus kita lakukan pada perhiasan itu : yaitu menjaga, merawat, tidak menempatkan perhiasan tersebut di sembarang tempat, dan jika perlu dalam kondisi tertentu harus berani menjadi bemper di kala ada suatu hal yang ingin mengganggu, merusak, atau mengambil perhiasan tersebut. Dalam hal ini bermakna, memperlakukan perhiasan haruslah penuh save and care serta penuh memuliakan. Oleh karena itu sama halnya dengan suami dalam memperlakukan istri, harus seperti bagaimana memperlakukan pada sebuah perhiasan yang paling baik, bahkan harus lebih dari itu.
Maka kehidupan dalam berumah tangga, untuk bisa mengamalkan salah satu riwayat di atas, jika istri bagaikan perhiasan terbaik, sebenarnya istri tidak wajib memasak untuk suami karena jika suami bisa memasak mengapa harus menyusahkan istri untuk berpanas- panas di depan kompor, istri juga tidak wajib mencuci pakaian suami karena jika suami bisa mencuci pakaiannya sendiri kenapa harus membuat tangan istri susah payah mencuci apalagi sekarang sudah banyak mesin cuci yang sangat mudah sekali pengoperasiannya. Dan yang tidak kalah pentingnya hari ini adalah bahwa sebenarnya istri tidak wajib bekerja untuk mencari uang/ nafkah, karena yang wajib mencari nafkah adalah suami. Jika ada istri yang bekerja untuk mencari nafkah, peran itu hanya sebagai shadaqah istri untuk meringankan tugas suami. Dan masih banyak lagi contoh peran istri dalam rumah tangga yang masih dianggap itu wajib bagi istri,  padahal tidak. Lalu apa hal yang wajib bagi seorang istri kepada suami? Jawabnya adalah TAAT.
Wallaahu a’lam.

100 Dollar dan Kasih Sayang Ibu - Anak


Dia adalah seorang anak yang terlahir dalam keluarga miskin yang kesusahan, ayahnya wafat pada saat usianya tiga tahun, ibunya mencari nafkah dengan mencuci pakaian orang. Maka dia sadar kalau dirinya harus bekerja keras. Pada usia 18 tahun, dia berhasil masuk perguruan tinggi dengan nilai yang tinggi. Demi mencukupi biaya sekolahnya, ibunya pernah menjual darah, namun dia berpura-pura tidak tahu, sebab takut melukai hati ibunya. Dia sendiri pernah menjual darah secara sembunyi- sembunyi tanpa diketahui ibunya, mengangkut batu sampai tangannya berdarah, juga menjual koran, demi sedikit meringankan beban ibunya.

Pada masa liburan musim dingin tahun kedua, dia pulang ke rumah dan melihat ibunya sedang mencuci pakaian orang dalam cuaca sangat dingin, kedua tangan ibunya sampai pecah- pecah karena kedinginan. Ibunya berkata: “Pekerjaan lain sulit ditemukan, jadi hanya bisa mencuci pakaian, sehelai pakaian upahnya satu dollar, semua ini adalah pakaian orang kaya, mereka takut pakaiannya rusak kalau mempergunakan mesin cuci.”

Hari itu, ibunya menerima upah kerjanya dan berkata dengan gembira: “Anakku, ibu mendapatkan upah 200 dollar.”

Sambil berkata ibunya merogoh kocek, siapa sangka ternyata di dalam koceknya hanya tersisa selembar uang kertas pecahan 100 dollar saja.

Seketika ibunya menjadi panik: “Ibu kehilangan 100 dollar.”

Tanpa berkata banyak, ibunya dengan tergesa- gesa pergi ke luar rumah. Di luar rumah sungguh gelap, angin juga kencang dan turun salju, ibu menelusuri sepanjang jalan pulang tadi untuk mencari uangnya. Ya, 100 dollar itu memang sangat penting baginya. Itu adalah biaya hidup ibunya selama sebulan, itu adalah uang makannya selama sebulan.

Setelah sang ibu ke luar rumah, dia pun mengikutinya ke luar rumah. Di luar sangat gelap, ibunya mempergunakan lampu senter untuk mencari uangnya. Tanpa terasa air matanya mengalir turun.
Benar! Itu adalah upah ibunya mencuci 100 helai pakaian. Dia mencari di halaman rumah, juga mencari di jalan, tetapi tetap saja tidak ditemukan. Jika pun ada, mungkin sudah dari tadi dipungut orang lain.

Ibunya bolak- balik tiga kali untuk mencari uangnya. Dia berkata kepada ibunya dengan hati pilu: “Ibu, tidak usah cari lagi, nanti sesudah hari terang baru kita cari lagi.”

Namun ibunya tetap bersikeras ingin mencari, cahaya dari lampu senter di kegelapan malam seakan menikam lubuk hatinya dan membuat rasa sakit tiada terhingga.

Tiba- tiba dia berinisiatif mengambil 100 dollar dari uang biaya hidup yang diberikan oleh ibunya dan meletakkannya di halaman rumah. Dia beranggapan kalau ini adalah jalan terbaik untuk membebaskan ibunya dari kegalauan.

Dan benar, tidak berapa lama dia mendengar ibunya berkata dengan senang: “Anakku, uangnya sudah ditemukan!”

Dia berlari ke luar dan ikut bergembira bersama ibunya. Dengan gembira ibu dan anak kembali ke dalam rumah. Ibunya berkata: “Anggap saja tidak ditemukan. Mari, ini untukmu! Kamu harus makan yang lebih baik, lihat! kamu terlalu kurus nak.”

Beberapa tahun kemudian, dia lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Dia lalu menjemput ibunya untuk tinggal bersama di kota, sejak itu ibunya tidak perlu lagi mencuci pakaian orang.

Tentang uang kertas pecahan seratus dollar itu, dia tidak pernah merasa rela untuk mempergunakan dan terus disimpannya. Itu adalah uang kertas pecahan seratus dollar yang dicari ibunya semalaman, melambangkan kehangatan dan perasaan penuh kasih.

Setelah beberapa tahun kemudian, dia mengungkapkan hal ini dalam suatu kesempatan, sambil tersenyum berkata kepada ibunya: “Ibu, saya yang menaruh uang kertas pecahan seratus dollar itu di sana”. Namun yang mengejutkannya adalah jawaban ibunya: “Ibu tahu”.

Dengan heran dia bertanya, “Bagaimana ibu bisa tahu?” Ibunya lantas menjawab, “Uang yang ibu dapatkan selalu diberi tanda, ada tulisan 1, 2, 3 di atasnya, sedangkan uang kertas itu tidak ada tandanya, apalagi ditemukan di halaman rumah. Ibu tahu kalau itu adalah uang yang kamu taruh karena khawatir ibu galau, sedih. Dalam hati ibu berpikir, karena anak ibu demikian sayang pada ibu, maka ibu tidak boleh mencari lagi, jikalau sudah hilang dan tidak akan ditemukan lagi, kenapa tidak membuat anak ibu tenang hati saja?”

Dia lalu beranjak memeluk ibunya erat- erat dengan mata berkaca-kaca.

Sungguh ibu dan anak yang bertautan hati, mereka selalu memberikan cinta kasih terhangat satu sama lain. Benar sekali, walaupun miskin, namun dengan adanya cinta kasih berlimpah, maka mereka merupakan orang paling kaya di dunia ini.

Pencarian sehelai uang kertas pecahan seratus dollar dalam kisah ini melambangkan dalamnya kasih sayang antara ibu dan anak.


Para Entrepreneur Termuda di Indonesia (Bag. 1)

Hamzah Izzulhaq (19 tahun)
Pria berumur 19 tahun ini adalah seorang Entrepreneur Muda yang sukses. Pemuda kelahiran Jakarta, 26 April 1993 tersebut memang sudah memiliki bakat bisnis sejak masih kecil, mulai dari menjual kelereng, gambaran, petasan hingga menjual koran. Menjadi tukang parkir serta ojek payung juga pernah dilakukannya. Pada pertengahan Kelas 2 SMA, ia menangkap peluang bisnis lagi. Ketika sedang mengikuti seminar dan komunitas bisnis pelajar bertajuk Community of Motivator and Entrepreneur (COME), Hamzah bertemu dengan mitra bisnisnya yang menawari usaha franchise bimbingan belajar (bimbel) bernama Bintang Solusi Mandiri. “Rekan bisnis saya itu juga masih sangat muda, usianya baru 23 tahun. Tapi bimbelnya sudah 44 cabang”, ujarnya.

Hamzah lalu diberi prospektus dan laporan keuangan salah satu cabang bimbel di lokasi Johar Baru, Jakarta Pusat, yang kebetulan ingin di-take over dengan harga jual sebesar Rp. 175 juta. Dengan hanya memegang modal 5 juta, pengusaha muda lulusan SMAN 21 Jakarta Timur ini melobi sang ayah untuk meminjam uang sebagai tambahan modal bisnisnya. “Saya meminjam 70 juta dari ayah yang seharusnya uang itu ingin dibelikan mobil. Saya lalu melobi rekan saya untuk membayar 75 juta dulu dan sisanya yang 100 juta dicicil dari keuntungan tiap semester. Alhamdulillah, permintaan saya dipenuhi”, ungkapnya. Dari franchise bimbel itu, bisnis Hamzah berkembang pesat. Keuntungan demi keuntungan selalu diputarnya untuk membuat bisnisnya lebih maju lagi.

Kini, Hamzah telah memiliki 3 lisensi franchise bimbel dengan jumlah siswa di atas 200 orang tiap semester. Total omzet yang diperolehnya sebesar Rp. 360 juta/ semester dengan nett profit sekitar Rp. 180 juta/ semester. Sukses mengelola bisnis franchise bimbelnya, Hamzah lalu melirik bisnis kerajinan sofa bed di area Tangerang. Sejak Bulan Agustus 2011, bisnis Hamzah telah resmi berbadan hukum dengan nama CV Hamasa Indonesia. Lulusan SMA Tahun 2011 ini duduk sebagai Direktur Utama di perusahaan miliknya yang omzetnya secara keseluruhan mencapai Rp. 100 juta per bulan.

Selasa, 15 Januari 2013




Refresh

Oleh : Rofiq Abidin 

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS. Al Fajr : 27-28)

Pagi nan cerah memberi warna tersendiri bagi kita. Membuka hari dengan hati lapang, memulai semua aktivitas dengan penuh semangat dan senyuman terindah kita berikan kepada sekitar. Setidaknya beberapa ritual ini akan menarik kelimpahan dan keberkahan disepanjang hari. Beragam peristiwa yang hadir terkadang tak menjadi keinginan kita, namun senyatanya hadir memberi kita pelajaran berharga. Tak perlu panik menghadapi semua, karena masalah adalah bagian tak terbantahkan bagi kelangsungan hidup manusia. Ia datang untuk menguji dan ia hadir untuk memberi warna-warni kehidupan kian menjadi makin elok. Bagi seorang mukmin, saat memulai sesuatu telahpun dianjurkan untuk menghubungkan semua dengan Sang Pencipta, yakni dengan membaca “basmalah”. Dalam proses ikhtiarpun dianjurkan untuk “berdo’a” dan saat mengakhiri semua dianjurkan untuk membaca “hamdalah”. Ketiga pesan Islam ini tentunya tidak hanya ungkapan verbal semata, namun penuh penghayatan dan aktualisasi dalam kesalehan amal dan kesalehan sosial. Bagi yang jiwanya mutma’inah (penuh ketenangan) akan mendapat sambutan spesial dari Allah. Ia akan dipanggil untuk berada didalam naungan ridho Allah yang penuh kesejukan dan penuh kedamaian. Saat kita sedih, kita butuh refresh. Saat kita kecewa kita butuh refresh. Saat kita panik, kita butuh refresh. Karena dengan refresh, maka jiwa kita menjadi lapang menampung segala masalah yang ada. Dengan refresh, maka pikiran kita jadi sehat dan kreatif. Dengan refresh, maka langkah kita menjadi semakin matang dan bijak.

Refresh menjadi Pengendali
Tak ada yang tak pernah salah, yang ada adalah orang yang bersih dari salah karena ampunan Allah. Tak ada orang yang tidak pernah emosi, yang ada adalah orang yang sanggup mengendalikan emosi. Tak ada orang yang tak pernah kecewa, yang ada adalah orang yang tulus ikhlash menerima kenyataan hidup. Semua sikap negatif itu akan kembali normal saat kita mampu merefresh hati dan pikiran kita. Semua masalah menjadi semakin rumit saat hati tidak dalam keadaan lapang. Bahkan yang sederhana saja bisa membelit aktivitas kita, karena hati dan pikiran kita tidak kita refresh. Mari kita coba merefresh dalam setiap kehidupan kita dengan mengikuti langkah- langkah berikut :
1.   Mulailah semua pekerjaan kita dengan menghubungkannya kepada Allah, niscaya akan kita dapatkan “kasih dan sayang” Allah. Dengan mengkaitkan diri dengan asma Allah maka kasih sayang Allah akan hadir nyata dalam kehidupan kita. Bermakna semua pekerjaan yang kita lakukan mestilah kita dasarkan pada wahyu Ilahi,  sehingga kita mendapat bimbingan Allah dalam memulai apapun. Kita mau memulai usaha, mulailah semua karena Allah, kita mau beribadah, mulailah karena Allah dan kita mau menjalin hubungan dengan manusia, maka niatkan semua karena Allah.
2.   Saat langkah terasa lelah, segarkan kembali niat suci.
Perjalanan hidup kadang membuat kita terasa capek, lelah dan lunglai. Namun jika mau refresh dulu sejenak, kita akan dapat bangkit lagi untuk berjalan. Dengan melapangkan hati dan menyegarkan kembali pikiran kita, maka ide segar akan tercukil dengan sendirinya untuk mengusir kelelahan kita. Karena lelah sesungguhnya butuh istirahat sejenak, maka istirahatkanlah sejenak hati dan raga kita, tak perlu memaksakan. Namun juga jangan terlena, karena tujuan asal istirahat adalah untuk menyegarkan kembali hati dan raga menuju perjalanan akhir yang lebih bahagia dan membahagiakan.
3.   Saat kecewa mendera, segarkan kembali dengan ketulusan.
Tak ada manusia yang ingin celaka, namun sebenarnya banyak manusia yang mengundang celaka dengan perbuatannya yang meninggalkan keimanan. Kecewa dengan orang lain, kecewa dengan komunitas tertentu dan kecewa dengan diri sendiri terkadang menghambat kelancaran progres hidup kita. Padahal kecewa itu tidak memberi pengaruh apa-apa pada kita. Hanya hikmah dan keikhlasan yang dapat menyegarkan kembali saat kita kecewa. Kecewa datang penuh emosional, sehingga banyak orang kecewa hingga menutupi akal sehat dan keimanan mereka. Yang terbaik adalah segarkan kembali hati kita dengan menerima kenyataan secara ikhlas dan menggali hikmah. Itulah yang akan mengantarkan kita untuk kembali bangkit dan kembali pada prinsip kebenaran.
4.   Saat diri merasa gagal, segarkan kembali dengan syukur
Mungkin pembaca telah sangat paham bagaimana mensyukuri keberhasilan. Namun bagaimana dengan mensyukuri kegagalan? Apa maksudnya? Bukan berarti “syukurin”, namun mensyukuri apa saja yang ada, kenyataan yang ada. Boleh jadi Allah tidak berkenan terhadap keberhasilan kita, karena Allah hendak menyelamatkan diri kita dari kebatilan. Karena saat kita merasa berhasil, ternyata ada jalan haram yang meggoda kita untuk kemudian menuntun kita pada kejahiliyahan. Mensyukuri kegagalan, berarti merefresh kembali hati dan pikiran untuk lebih dewasa menerima kenyataan, untuk kembali mengevaluasi sikap dan keputusan yang kita ambil.
Kembali pada ridho dan jalan Tuhan itulah pada dasarnya yang menjadikan kita lebih bahagia, lebih tenang dan lebih sejahtera. Apapun keadaan kita saat ini, syukurilah dan segarkan kembali semangat kita dengan memulakan semua dengan benar. Kepuasan hati untuk dunia memang tidak akan ada habisnya, namun menempuh kepuasan hati untuk ridho Ilahi akan terasa menyamankan, menyegarkan hati serta lebih kekal. Semoga kita dapat terus merefresh hati dan pikitan kita, saat kita lelah, saat kita gundah, saat kita merasa gagal, sehingga tak ada kata menyerah untuk menuju kepuasan hati  yang suci lagi diridhoi Ilahi. 

Selasa, 08 Januari 2013


SAWANG SINAWANG
Oleh : Rofiq Abidin

Mencari kepuasan dunia memang tak ada habisnya. Setelah ini tercapai, kita ingin lagi ini dan itu menjadi milik kita. Setelah jadi ini, kita ingin jadi itu. Sah- sah saja seseorang memiliki keinginan banyak, yang penting tidak menuhankan hawa nafsu. “Enak ya jadi pegawai negeri”, celoteh seorang penjual kopi kepada pembelinya. “Kata siapa enak?”, sahut pembeli yang memang pegawai negeri. “Pegawai negeri itu rezekinya sudah dibatasi segini, kalau bapak bisa lebih besar dari saya”, imbuhnya dengan nada ringan. Mendengar percakapan di warung kopi ini saya tergelitik untuk ikut nimbrung berkomentar, “Ya memang hidup ini sawang sinawang, menjadi apapun kita yang penting kita pandai mensyukurinya”. Percakapan yang mengalir tanpa beban ini banyak kita jumpai secara mudah. Tidak sedikit orang latah ingin seperti orang lain, namun melupakan bahwa senyatanya ia adalah manusia unik yang memiliki kemampuan khusus yang telah diberikan Allah. Coba renungkan, semua binatang telah dilengkapi kemampuan khusus, bahkan alat khusus untuk bertahan hidup. Apalagi kita manusia yang merupakan kholqon akhor (ciptaan terbaik) dari Sang Pencipta Allah Azza Wajalla, pastilah dilengkapi dengan peralatan tercanggih dari Sang Pencipta agar dapat survive dalam hidup. Jangan hanya sibuk memikirkan enak atau tidaknya keadaan pekerjaan kita hari ini, namun menidurkan kemampuan unik yang Allah berikan secara khusus pada kita, sehingga waktu kita habis untuk hal yang tidak produktif, bukankah Allah sudah memberikan peringatan agar mukmin itu meninggalkan perbuatan yang tiada berguna? Mari kita syukuri apa yang ada, karena dengan syukur, Allah pasti menambahkan dari yang sudah ada. Kenapa saya katakan pasti?, karena itu rumusan Al qur’an yang tak terbantahkan. Pencapaian sukses seseorang dalam pandangan kita belum tentu membuat orang selalu bahagia. Karena rasa bahagia itu seperti taman indah yang perlu dirawat, sehingga tampak selalu nyaman dipandang dan menyegarkan bathin. Tidak sedikit orang yang sukses tapi tidak bahagia, begitupun sebaliknya, orang bahagia tapi tidak sukses. Jadi sawang sinawang kepada orang sekitar itu hanyalah sekelebat keinginan untuk menjadi lebih bahagia. Maka mari fokus untuk membangun bahagia dan berusaha untuk membhagiakan orang yang kita sayangi dengan anugerah unik yang telah dibekalkan Allah kepada kita, sehingga kita tidak meng-illahkan hawahu (hawa nafsu) yang terus meminta puas dan meminta lebih. Mari renungi pesan Allah berikut ini :
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al Jasiyah : 23)
Hawahu bisa menjadikan kita meninggalkan Konsep Islam “Allah Assomad” (Allah tempat bergantung). Padahal mungkin, kita ringan- ringan saja membaca ayat ini, yang sebenarnya penerapannya tidak mudah kita jalani. Pencapaian kita hari ini adalah anugerah Allah atas pilihan sikap yang kita ambil, jadi tak perlu terbawa penyesalan terlalu dalam. Namun terus tawakal dan ikhtiar adalah sikap yang akan membuat kita lebih sukses dan lebih bahagia dari yang kita sawang (pandang) dan yang kita bayangkan.