Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Unborn 8.0 Yellow Pointer

Blogger news

Jumat, 07 Oktober 2011

Ragam Ilmu


Ayat Al Qur’an  dalam Kromosom Manusia

Seorang ilmuwan yang penemuannya sehebat Gallileo, Newton dan Einstein yang berhasil membuktikan tentang keterkaitan antara Al Quran dan rancang struktur tubuh manusia adalah Dr. Ahmad Khan. Dia adalah lulusan Summa Cumlaude dari Duke University. Walaupun ia ilmuwan muda yang tengah menanjak, terlihat cintanya hanya untuk Allah dan untuk penelitian genetiknya. Ruang kerjanya yang dihiasi kaligrafi, kertas-kertas penghargaan, tumpukan buku-buku kumal dan kitab suci yang sering dibukanya, menunjukkan bahwa ia merupakan kombinasi dari ilmuwan dan pecinta kitab suci.
Salah satu penemuannya yang menggemparkan dunia ilmu pengetahuan adalah ditemukannya informasi lain selain konstruksi Polipeptida yang dibangun dari kodon DNA. Ayat pertama yang mendorong penelitiannya adalah Surat “Fussilat” ayat 53 yang juga dikuatkan dengan hasil-hasil penemuan Profesor Keith Moore ahli embriologi dari Kanada. Penemuannya tersebut diilhami ketika Khatib pada waktu Shalat Jumat membacakan salah satu ayat yang ada kaitannya dengan Ilmu Biologi. Bunyi ayat tersebut adalah sebagai berikut:
“…Sanuriihim ayatinaafilafaaqi wa fi anfusihim hatta yatabayyana lahum annahu ul-haqq…”
Yang artinya: Kemudian akan Kami tunjukkan tanda-tanda kekuasaan kami pada alam dan dalam diri mereka, sampai jelas bagi mereka bahwa ini adalah kebenaran.
Hipotesis awal yang diajukan Dr. Ahmad Khan adalah kata “ayatinaa” yang memiliki makna “Ayat Allah”, dijelaskan oleh Allah bahwa tanda-tanda kekuasaan-Nya ada juga dalam diri manusia. Menurut Ahmad Khan, ayat-ayat Allah ada juga dalam DNA (Deoxy Nucleotida Acid) manusia. Selanjutnya ia beranggapan  bahwa ada kemungkinan ayat Alquran merupakan bagian dari gen manusia. Dalam dunia biologi dan genetika dikenal banyaknya DNA yang hadir tanpa memproduksi protein sama sekali. Area tanpa produksi ini disebut Junk DNA atau DNA sampah. Kenyataannya DNA tersebut menurut Ahmad Khan jauh sekali dari makna sampah. Menurut hasil hasil risetnya, Junk DNA tersebut merupakan untaian firman-firman Allah sebagai pencipta serta sebagai tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir. Sebagaimana disindir oleh Allah; Afala tatafakaruun (apakah kalian tidak mau bertafakur atau menggunakan akal pikiran?).
Setelah bekerjasama dengan adiknya yang bernama Imran, seorang yang ahli dalam analisis sistem, laboratorium genetiknya mendapatkan proyek dari pemerintah. Proyek tersebut awalnya ditujukan untuk meneliti gen kecerdasan pada manusia. Dengan kerja kerasnya Ahmad Khan berupaya untuk menemukan Huruf Arab yang mungkin dibentuk dari rantai Kodon pada cromosome manusia. Sampai kombinasi tersebut menghasilkan ayat-ayat Alquran. Akhirnya pada Tanggal 2 Januari 1999 pukul 2 pagi, ia menemukan ayat yang pertama “Bismillahir Rahmanir Rahiim. Iqra bismirrabbika ladzi Khalq”; “bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Ayat tersebut adalah awal dari surat Al-A’laq yang merupakan surat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad di Gua Hira. Anehnya setelah penemuan ayat pertama tersebut ayat lain muncul satu persatu secara cepat. Sampai sekarang ia telah berhasil menemukan 1/10 ayat Al Quran.
Dalam wawancara yang dikutip “Ummi” edisi 6/X/99, Ahmad Khan menyatakan: “Saya yakin penemuan ini luar biasa, dan saya mempertaruhkan karier saya untuk ini. Saya membicarakan penemuan saya dengan dua rekan saya; Clive dan Martin seorang ahli genetika yang selama ini sinis terhadap Islam. Saya menyurati dua ilmuwan lain yang selama ini selalu alergi terhadap Islam yaitu Dan Larhammar dari Uppsala University Swedia dan Aris Dreisman dari Universitas Berlin.
Ahmad Khan kemudian menghimpun penemuan- penemuannya dalam beberapa lembar kertas yang banyak memuat kode- kode genetika rantai kodon pada cromosome manusia yaitu; T, C, G, dan A. Masing-masing kode Nucleotida akan menghasilkan huruf Arab yang apabila dirangkai akan menjadi firman Allah yang sangat mengagumkan.
Di akhir wawancaranya Dr. Ahmad Khan berpesan “Semoga penerbitan buku saya “Alquran dan Genetik” semakin menyadarkan umat Islam, bahwa Islam adalah jalan hidup yang lengkap. Kita tidak bisa lagi memisahkan agama dari ilmu politik, pendidikan atau seni. Semoga non muslim menyadari bahwa tidak ada gunanya mempertentangkan ilmu dengan agama. Demikian juga dengan ilmu-ilmu keperawatan. Penulis berharap akan datang suatu generasi yang mendalami prinsip-prinsip ilmu keperawatan yang digali dari agama Islam. Hal ini dapat dimulai dari niat baik para pemegang kebijakan (decision maker) yang beragama Islam baik di institusi pendidikan atau pada level pemerintah dalam memfasilitasi serta memberi dukungan secara moral dan finansial.
***[Sumber:http://wajibbaca.com]

Jejak Risalah


Abbas Ibnu Firnas
Penemu Letak Dasar Pesawat Terbang

Pada abad ke-8, seorang Muslim Spanyol, Abbas Ibnu Firnas, telah menemukan, membangun, dan menguji konsep pesawat terbang. Konsep pesawat terbang Ibnu Firnas inilah yang kemudian dipelajari Roger Bacon lepas 500 tahun setelah Ibn Firnas meletakkan teori-teori dasar pesawat terbang.
Sekitar 200 tahun setelah Bacon atau 700 tahun pasca uji coba Ibnu Firnas, barulah konsep dan teori pesawat terbang dikembangkan. Pada tahun 875, Ibnu Firnas membuat sebuah prototipe atau model pesawat terbang dengan meletakkan bulu pada sebuah bingkai kayu. Inilah catatan dokumentasi pertama yang sangat kuno tentang pesawat terbang layang.
Salah satu dari dua versi catatan konstruksi pesawat terbang Ibnu Firnas menyebutkan, setelah menyelesaikan model pesawat terbang yang dibuatnya, Ibnu Firnas mengundang masyarakat Cordoba untuk datang dan menyaksikan hasil karyanya itu.
Warga Cordoba saat itu menyaksikan dari dekat menara tempat Ibnu Firnas akan memperagakan temuannya. Namun karena cara meluncur yang kurang baik, Ibnu Firnas terhempas ke tanah bersama pesawat layang buatannya. Dia pun mengalami cedera punggung yang sangat parah.
Cederanya inilah yang memaksa Ibnu Firnas tak berdaya untuk melakukan ujicoba berikutnya.
Versi kedua catatan ini menyebutkan, Ibnu Firnas lalai memperhatikan bagaimana burung menggunakan ekor mereka untuk mendarat. Dia pun lupa untuk menambahkan ekor pada model pesawat layang buatannya. Kelalaiannya inilah yang mengakibatkan dia gagal mendaratkan pesawat ciptaannya dengan sempurna.
Cedera punggung yang tak kunjung sembuh mengantarkan Ibnu Firnas pada proyek- proyek penelitian di dalam ruangan (laboratorium). Dia pun meneliti gejala alam dan mempelajari mekanisme terjadinya halilintar dan kilat. Ibnu Firnas berhasil mengembangkan formula untuk membuat gelas dan kristal.
Sayang, tak lama setelah itu, tepatnya pada tahun 888, Ibnu Firnas wafat dalam keadaan berjuang menyembuhkan cedera punggung yang diderita akibat kegagalan melakukan ujicoba pesawat layang buatannya.
Abbas Ibnu Firnas atau Abbas Qasim Ibnu Firnas (dikenal dengan nama Latin Armen Firman) dilahirkan di Ronda, Spanyol pada tahun 810 M. Dia dikenal sebagai orang Barbar yang ahli dalam bidang kimia dan memiliki karakter yang humanis, kreatif, dan kerap menciptakan barang- barang berteknologi baru saat itu.
Pria yang suka bermain musik dan puisi ini hidup pada saat pemerintahan Khalifah Umayyah di Spanyol (dulu bernama Andalusia). Masa kehidupan Ibnu Firnas berbarengan dengan masa kehidupan musikus Irak, Ziryab.
Pada tahun 852, di bawah pemerintahan khalifah baru, Abdul Rahman II, Ibnu Firnas membuat pengumuman yang menghebohkan warga Cordoba saat itu. Dia ingin melakukan uji coba terbang dari menara Masjid Mezquita dengan menggunakan `sayap’ atau jubah tanpa lengan yang dipasangkan di tubuhnya.
Dia berhasil mendarat walaupun dengan cedera ringan. Alat yang digunakan Ibnu Firnas inilah yang kemudian dikenal dengan parasut pertama di dunia. Menara Masjid Mezquita di Cordoba menjadi saksi bisu perwujudan konsep pertama pesawat terbang yang lahir dari pemikiran seorang Muslim.
Keberhasilannya itu tidak lantas membuat Ibnu Firnas berdiam diri. Dia kembali melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan konsep serta teori dari gejala- gejala alam yang diperhatikannya.
Karya-karya baru pun bermunculan dari buah pemikiran Ibnu Firnas. mulai dari puisi, kimia, sampai astronomi, semuanya dipelajarinya dengan satu tujuan, yaitu mampu memberikan manfaat bagi umat manusia.
Di antara hasil karyanya yang monumental adalah konsep tentang terjadinya halilintar dan kilat, jam air, serta cara membuat gelas dari garam. Ibnu Firnas juga membuat rantai rangkaian yang menunjukkan pergerakan benda-benda planet dan bintang. Selain itu, Ibnu Firnas pun menunjukkan cara bagaimana memotong batu kristal yang saat itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang Mesir.
sumber : http://www.republika.co.id

Cindera Hati


Fathimah tetap asyik di tempat duduknya ketika ibunya menyambut seorang tetangga yang datang berkunjung. Ibunya heran ketika melihat putrinya tidak beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut tamu itu meskipun tamu itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Fathimah; ia tidak memperdulikannya. Ia tidak mau menjabat tangan tamu itu. Sejenak ia membiarkan tangan tamu itu terjulur di hadapan ibunya yang masih bingung. Ibunya lantas menghardik putrinya, “Fathimah, berdiri, dan ucapkan salam kepada bibimu ini!” Fathimah membalas dengan pandang cuek, dia tidak bergeser dari tempat duduknya, seolah ia tidak mendengar perintah ibunya.
Tamu itu merasa sangat bersalah melihat sikap dingin Fathimah. Ia merasa telah menyakiti perasaan anak itu, merendahkan kehormatan dan melakukan penghinaan terhadapnya. Ia pun menarik kembali tangannya yang terjulur. Dia pun segera meminta izin undur diri seraya berkata, “Kelihatannya saya berkunjung pada saat yang kurang tepat!”
Saat itu tiba-tiba Fathimah meloncat dari tempat duduknya, memegang tangan tamu itu dan mengecup kepalanya sembari berkata, “Maafkan aku bibi, demi Allah aku tidak bermaksud jahat kepadamu!” Fathimah meraih tangan tamu itu dengan lembut, penuh cinta dan penghormatan. Fathimah mengajaknya duduk kembali dengan berkata, “Engkau tahu kan bibi, betapa besarnya rasa cinta dan hormatku kepadamu?”
Fathimah berhasil menghibur hati tetangga itu dan mengusap lukanya akibat kesalahan yang dia lakukan. Kelakuan yang aneh, dan tidak bisa dimengerti. Di sisi lain, ibunya memendam amarah dan berusaha menahannya agar tidak berkobar di depan tamunya.
Kemudian, setelah berbincang-bincang, tetangga itu berdiri untuk pamitan pulang. Fathimah kembali bergegas berdiri untuk mengulurkan tangan, sementara tangan satunya lagi memegang tangan tamu itu sembari berkata, “Sebaiknya kubiarkan tanganku mengulur agar engkau tidak mengulurkan tanganmu kepadaku untuk menebus kesalahan yang kulakukan tadi.”
Tamu itu malah mendekap Fathimah ke dadanya, dan memeluknya erat-erat. Dia mengecup kepala Fathimah dan berkata, “Tidak mengapa, sebab kamu telah bersumpah bahwa kamu tidak bermaksud berbuat jahat kepadaku.”
Tak lama setelah kepulangan tamu itu, sang ibu berkata kepada Fathimah dengan nada emosi yang semenjak tadi ditahannya, “Mengapa kamu berbuat seperti itu?”
“Ibu, Fathimah tahu bahwa Fathimah telah membuat ibu sakit hati, Fathimah minta maaf” jawab Fathimah mengakui kesalahannya.
Ibunya berkata, “Tadi bibimu mengajakmu bersalaman tetapi kamu malah tidak beranjak dari tempat dudukmu untuk menjabat tangannya.”
“Engkau juga melakukannya.” Jawab Fathimah menimpali.
Mendengar ucapan Fathimah, sang ibu terkejut, “Kapan ibu melakukannya?”
“Ibu melakukannya siang dan malam.” Jawab Fathimah enteng.
“Apa yang ibu lakukan siang dan malam.” Tanya sang ibu keheranan.
“Dia mengulurkan tangan-Nya kepadamu tapi engkau tidak mengulurkan tanganmu kepada-Nya?” tegas Fathimah.
“Siapa yang mengulurkan tangannya kepadaku, dan aku tidak meresponnya?” Tanya ibunya  dengan emosi yang semakin bertambah.
Fathimah pun menjelaskan, “Allah…, ibu. Allah selalu membentangkan tangan-Nya kepada ibu siang dan malam agar ibu bertaubat. Tapi, ibu masih saja tidak mau bertaubat. Ibu tidak mengulurkan tangan ibu kepada-Nya, dan berjanji setia kepada-Nya untuk bertaubat.” Sang ibu diam terpaku. Perkataannya anaknya membuat dirinya terpojok, merasa bersalah.
Fathimah melanjutkan, “Ibu, bukankah aku telah membuatmu sedih ketika aku tidak mau mengulurkan tangan kepada tetangga kita tadi? Ibu khawatir jika nama baik keluarga kita terkoyak, sehingga ibu tidak sanggup menanggung aibnya? Padahal aku setiap hari merasa sedih karena mendapati ibu tidak mengulurkan tangan untuk bertaubat kepada Allah. Padahal Allah telah membentangkan tangan-Nya kepadamu siang dan malam. Dalam hadits shahih, Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubatnya orang yang berbuat dosa pada siang hari, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubatnya orang yang berbuat dosa pada malam hari. Hal seperti ini berlangsung hingga matahari terbit dari Barat.” (HR. Muslim).
Ibu, apakah ibu tahu bahwa Rabb kita membentangkan tangan-Nya kepada kita setiap hari dua kali tapi ibu malah menggenggam tangan ibu dan tidak membentangkan tangan kepada-Nya dengan bertaubat.”
Ibunya pun mulai tenggelam dalam isak tangis. Fathimah melanjutkan ucapannya yang semakin menyentuh, “Ibu, aku mengkhawatirkanmu karena engkau tidak menunaikan shalat. Padahal, amal perbuatan hamba yang pertama kali dihisab adalah shalat. Aku juga sedih sering melihatmu keluar rumah tanpa mengenakan kerudung, padahal Allah memerintahkan kita (kaum muslimah) untuk memakainya. Bukankah engkau merasa bersalah kepada tetangga kita karena perbuatanku tadi? Begitu pula aku, wahai ibu. Aku juga merasa bersalah di hadapan teman-temanku setiap kali mereka bertanya tentang engkau yang tidak memakai kerudung dan berdandan, padahal aku memakai hijab!”
Air mata taubat mengalir deras dari kelopak mata sang ibu diiringi dengan air mata anaknya yang juga mengalir deras dari kedua matanya. Selanjutnya, anak ini beranjak menuju ibunya yang telah mengasuhnya dengan penuh kasih sayang. Ibunya bergumam, “Aku bertaubat kepada-Mu ya Allah, aku bertaubat kepada-Mu ya Rabb.” Mereka pun saling berpelukan dengan tetap menahan air mata yang tak kuasa dibendung. Sang ibu berderai air mata taubat sedangkan Fathimah berderai air mata bahagia karena bisa menasehati ibunya untuk kembali kepada Allah dengan satu asa; ia dan ibunya beserta keluarganya tidak hanya berkumpul di dunia, tetapi juga di jannah-Nya.

Rabu, 05 Oktober 2011

Pesan Ilahiyah


Pemuda Sang Metamorfosa

oleh : Rofiq Abidin
Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (Al Anbiya (21) : 60)
Tak bisa dinafikkan bahwa pemuda memiliki peran besar dalam perkembangan perubahan di dunia. Nabi dan Rosul yang diutus oleh Allah merupakan manusia pilihan yang sejak usia muda telah memiliki peran terhadap perubahan pada eranya masing-masing. Sebut saja Nabi Ibrahim Alaihi Salam, pemuda militan yang memiliki keberanian tinggi mengubah kiblat pemikiran dan paganisme masyarakat yang mengagung-agungkan berhala,  Ibrahim menghancurkan “berhala-berhala” kecil, lalu menggantungkan kapaknya ke “berhala” yang paling besar untuk memberikan pelajaran kepada kaumnya bahwa menyembah berhala itu (tuhan selain Allah SWT) sama sekali tidak bisa mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Nabi Yusuf sosok pemuda tampan yang memiliki keistikomahan karena tak tergoda nafsu, meski kesempatan ada. Yusuf tak mau meladeni  wanita (Zulaikha) yang terus menggodanya. Ketika Yusuf digoda, ia justru berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Nabi Muhammad SAW sosok manusia paling berpengaruh di dunia, pada masa mudanya adalah sosok Al Amin (terpercaya) karena kejujurannya dalam bergaul, dalam berbisnis dan dalam mengemban amanah. Keberanian, keteguhan dan kejujuran hendaknya menjadi modal utama para pemuda untuk mendongktak tafkir (pola pikir) yang kurang maju dan tindakan yang keluar dari nilai-nilai keIslaman.
Potensi Pemuda
Kesempatan muda memang jangan kita sia-siakan, karena waktu takkan bisa diulang walau sedetik saja, maka kesempatan dan potensi pemuda hendaknya kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Mari kita cermati potensi para pemuda, yang pertama tentunya “semangat” yang selalu menjadi obor perjuangan apa saja untuk meraih tujuan dan cita-cita. Semangat yang menggebu-gebu bisa menjadi pemicu orang-orang sekitarnya bagai virus yang menular, namun perlu memperhatikan arah dan tujuan perjuangan. Yang kedua adalah “keberanian”, tentunya sebuah perubahan tidak akan terjadi manakala tidak ada yang berani memulainya. Yang ketiga adalah “ide-ide brillian”, kecerdasannya masih sangat perlu diasah dan digali, karena masih fresh dan hausnya terhadap ilmu mengantarkannya menyimpan ide-ide brilian yang akan menjadi referensi solusi yang efektif dan efisien. Setidaknya tiga potensi ini akan menjadi titik awal sebuah perubahan dalam sebuah perjuangan, marilah kita berikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi generasi yang akan menjadi penerus bangsa.

Peran Pemuda dalam Sejarah Bangsa
Di antara para pemuda di zaman Rosulullah Muhammad SAW saat membangun negeri Madinah Al Munawaroh yang sangat berjasa terhadap perkembangan da’wah dan peradaban Islam adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr ibnul Ash, Muadz bin Jabal, dan Zaid bin Tsabit, mereka ini telah menyerap dari Rasulullah SAW berbagai ilmu yang bermanfaat bagi perkembangan Islam selanjutnya. Di sisi lain ada Khalid ibnul Walid, Al-Mutsanna bin Haritsah, Asy-Syaibany dan selain mereka yang gigih dalam menyebarkan Islam lewat medan pertempuran jihad di jalan Allah SWT.
Selanjutnya tak hilang dari benak kita bahwa sejarah Indonesia juga telah mengalami perubahan besar pada saat para pemuda Indonesia bergerak aktif dan peduli dengan bangsanya. Sebut saja pada 28 Oktober 1928 para pemuda yang dipimpin oleh Mohammad Yamin mengikrarkan perihal yang sangat penting bagi kelangsungan Negara Indonesia yang notabene memiliki kekayaan keanekaragaman hayati dan masyarakatnya yang begitu plural. Dari sebuah titik ikrar “Sumpah Pemuda” maka selanjutnya terbentanglah garis lurus dari Sabang sampai Merauke menjadi wilayah kesatuan Republik Indonesia.

Pemuda Sang Metamorfosa Perubahan
Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi)
Masa muda masa yang paling indah, begitu kira-kira celoteh anak zaman sekarang. Mungkin dalam benaknya ingin menikmati hidup dengan foya-foya saja atau menikmati masa keemasannya dengan karya-karya yang tidak akan bisa dilakukan pada masa tuanya. Setiap kita pun akan memilih berdasarkan kebutuhan dan tujuan hidup masing-masing. Masa muda adalah masa emas dimana saat muda memiliki minimal tiga hal di atas, semangat, keberanian dan kecerdasan. Maka kepada generasi muda, nikmatilah masa muda dengan memproses diri menjadi generasi unggul yang berperan bagi kehidupan bernegara dan kelanjutan da’wah Islam. Adapun karakteristik pemuda yang akan menjadi metamorfosa perubahan setidaknya memiliki beberapa hal berikut :
1.      Tagyirun Nufus
Aktualisasi diri merupakan kebutuhan hidup utama seseorang jika ia ingin memiliki eksistensi hidup yang dinamis. Dengan bekal semangat untuk tagyirun nufus (mengubah diri menjadi lebih baik), maka pemuda ini sadar akan pentingnya perubahan diri dan lingkungannya demi eksistensi kehidupan selanjutnya. Pemuda ini akan senantiasa memiliki visi ke depan (visioner), suka tantangan dan tidak cengeng dengan keadaan. Tagyirun nufus yang dilakukan seorang pemuda hendaknya dilakukan secara seimbang dan dinamis. Adapun yang perlu terus diubah dalam hidupnya adalah :
a.       Sikap, dalam setiap tindakan seseorang menyimpan niat dan kepentingan, maka setiap niat baik yang selanjutnya diamalkan terkadang didapati kekurangsempurnan. Disinilah kita mengubah sesuatu yang belum sempurna menjadi lebih sempurna, yang belum efektif menjadi lebih efektif dan yang belum maksimal menjadi optimal. Tagyirun nufus menjadi spirit perubahan dalam setiap niat, sikap dan hasil yang kita peroleh.
b.      Kemampuan dan ketrampilan (istito’ah dan maharoh), dalam era penuh kompetitif ini, maka keahlian menjadi faktor penting untuk meraih kesuksesan dan eksistensi hidup. Maka pemuda hendaknya memiliki kemampuan dan ketrampilan tesendiri dan terus diasah menjadi lebih piawai, sehingga tagyirun nufus terus berjalan seiring dengan perubahan zaman.
c.       Hubungan (silah), pergaulan anak muda sering menjadi perhatian pihak orang tua, jika pergaulan salah maka berdamak negatif bagi jiwa, sikap dan mentalnya, namun jika pergaulan benar maka berdampak positif bagi perubahannya kedepan. Maka perlu kiranya dalam tagyirun nufus membangun silah (hubungan) baik dengan rekan bisnis dan komunitas sosial lainnya, namun perlu memperhatikan fungsi dan kualitas pertemanan.
2.      Hubbul wathan, mencintai negara merupakan bagian dari iman, maka pemuda yang memiliki patriotisme tinggi akan memiliki spirit dahsyat mengubah diri demi kemajuan bangsanya, sehingga ia akan bermetamorfosa menjadi generasi yang cinta negara dan punya rasa memiliki yang tinggi terhadap negaranya.
3.      Suja’ah, berani berinovasi, berani menyampaikan pendapat, ide dan kebenaran serta berani memegang teguh prinsip kebenaran akan menjadikan seorang pemuda tangguh yang mengubah pola pikir kurang maju dan kurang inovatif yang dipengaruhi oleh ketakutan untuk berubah.
4.      Akhlakul Karimah, merupakan visi nabi yang diutus untuk umat manusia, maka pemuda yang memiliki akhlakul karimahlah yang akan mudah dipercaya mengemban sebuah amanah karena budi pekerti luhur adalah kunci profesionalisme. Jadilah pemuda yang berakhlak mulia, mulai dari niat, penampilan, sikap dan perilaku  yang menjadi tauladan bagi perubahan, jangan sampai perubahan kearah modern meninggalkan nilai-nilai akhlakul karimah.
5.      Istiqomah, teguh pendirian merupakan sikap para nabi dan rasul dan para tokoh dunia. Mereka kuat dan teguh memegang prinsip, sehingga selalu menjadi spirit dalam setiap ujian. Istiqomah dengan prinsip yang kita punya, akan berdampak tidak hanya kepada diri kita, namun secara tidak langsung juga akan berdampak bagi orang lain yang menteladani keteguhan kita. Pemuda yang istiqomah, inilah kunci dari empat proses metamorfosa di atas, semua butuh istiqomah agar perubahan kearah lebih baik terus berjalan signifkan.
Dengan demikian, wahai pemuda Islam, marilah bermetamorfosa menjadi generasi unggul demi perubahan dan kemajuan Islam dan Negara Indonesia. Semoga menjadi spirit bagi saya dan para pembaca untuk menjadi manusia yang lebih baik, dalam bersikap, berkemampuan dan dalam berperan.